Oleh : M .Shohibul Fitri
Satu masalah sosial yang dapat dijumpai di hampir semua daerah di Indonesia adalah kemiskinan. Kemiskinan adalah masalah yang pelik karena menimbulkan efek yang besar pula di bidang-bidang kehidupan lainya, ditandai dengan kondisi kekurangan dan ketidakberdayaan. Keterkaitan kemiskinan dengan bidang kehidupan lainya sangat kompleks seperti misalnya, kondisi ekonomi yang miskin menyulitkan untuk memenuhi kebutuhan pokok makanan apalagi makanan dengan kategori gizi yang baik, akibatnya derajat kesehatan si miskin menurun, pada anak – anak hal ini menyebabkan kondisi gizi buruk dan dalam jangka panjang mengganggu pertumbuhan fisik serta menurunkan kecerdasan anak. Selain itu angka kematian ibu dan bayi juga akan tinggi sebab si ibu hamil tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai sejak awal masa kehamilan hingga waktu melahirkan sebagai akibat ekonomi yang kurang sehingga biaya pelayanan kesehatan menjadi tidak terjangkau.
BEDA PERSEPSI
Di bidang pendidikan, kemiskinan menyebabkan angka siswa putus sekolah atau tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan lanjutan menjadi tinggi. Akibatnya penurunan sumberdaya manusia merupakan ancaman nyata di depan mata. Kondisi ekonomi yang kurang juga berakibat pada ketidakmampuan pemenuhan tempat tinggal yang layak bagi kesehatan dan sosial. Keterkaitan yang kompleks ini justru melahirkan program penanganan kemiskinan yang tidak lengkap dan tidak tuntas pula, bahkan di tataran data kemiskinan serta bahasa untuk menggambarkan definisi kemiskinan pun masing-masing lembaga pemerintahan berbeda-beda . Beberapa diantaranya sebagai berikut :
Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), kemiskinan adalah kondisi seseorang tidak mampu memenuhi hak - hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi bilamana jumlah rupiah yang dikeluarkan atau dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi kurang dari 2.100 kalori perkapita. Bank Dunia juga memiliki definisi kemiskinan yaitu tidak tercapainya kondisi kehidupan yang layak dengan penghasilan 1,00 dolar AS perhari. Definisi yang lumayan cukup lengkap mengenai kemiskinan adalah versi BKKBN yang mendefinisikan bahwa keluarga miskin memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
• Tidak dapat melaksanakan ibadah menurut keyakinannya.• Tidak mampu makan dua kali sehari.
• Tidak memiliki pakaian berbeda untuk dirumah, bekerja atau sekolah dan berpergian.
• Tidak bagian terluas dari rumahnya berlantai tanah.
• Mampu membawa anggota keluarga ke sarana kesehatan.
EFEKTIVITAS PENANGANAN KEMISKINAN
Berbagai upaya tersebut telah dilakukan untuk menurunkan jumlah penduduk miskin dari 54,2 juta (40.1%) pada tahun 1976 menjadi 22,5 juta (11.3%) pada tahun 1996. Namun, dengan terjadinya krisis ekonomi sejak Juli 1997 dan berbagai bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami pada Desember 2004 membawa dampak negatif bagi kehidupan masyarakat, yaitu melemahnya kegiatan ekonomi, memburuknya pelayanan kesehatan dan pendidikan, memburuknya kondisi sarana umum sehingga mengakibatkan bertambahnya jumlah penduduk miskin menjadi 47,9 juta (23.4%) pada tahun 1999. Kemudian pada 5 tahun terakhir terlihat penurunan tingkat kemiskinan secara terus menerus dan perlahan-lahan sampai mencapai 36,1 juta (16.7%) di tahun 2004.
Era tahun 2004-2014 pemerintah sudah melakukan berbagai program dengan tujuan pengentasan kemiskinan baik yang bersifat bantuan maupun pemberdayaan seperti bantuan beras miskin (raskin), Bantuan Langsung Siswa Miskin (BLSM), Bantuan Swadaya Perumahan Sederhana, Jamkesmas, Jampersal, Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan sebagainya, namun harus diakui bahwa program-program yang dirancang tersebut belum efektif menurunkan angka kemiskinan. Beberapa faktor penyebab ketidak efektifanya antara lain:
Pertama, program- program penanggulangan kemiskinan selama ini cenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang miskin. Hal itu, antara lain, berupa beras untuk rakyat miskin, program Jamkesmas untuk orang miskin. BLSM dan sebagainya Upaya seperti ini akan sulit menyelesaikan persoalan kemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah untuk pemberdayaan, bahkan dapat menimbulkan ketergantungan. Program-program bantuan yang berorientasi pada kedermawanan pemerintah ini justru dapat memperburuk moral dan perilaku masyarakat miskin. Misalnya, pada era orde baru desa-desa yang miskin mendapatkan bantuan Inpres Desa Tertinggal (IDT) namun kondisi saat itu justru penduduk desa dimanapun di Indonesia merasa malu jika desanya menerima bantuan IDT, masyarakat merasa turun kasta jika dikatakan sebagai penduduk miskin, Nah coba bandingkan dengan kondisi saat ini dimana justru masyarakat berlomba-lomba untuk bisa terdaftar sebagai orang miskin tanpa merasa malu , jika akan ada bantuan untuk orang miskin yang diluncurkan pemerintah.
Faktor kedua yang dapat mengakibatkan gagalnya program penanggulangan kemiskinan adalah kurangnya pemahaman berbagai stakeholder terhadap kemiskinan sehingga gagal pula menemukan akar persoalan penyebab kemiskinan . akar penyebab kemiskinan bisa berbeda-beda pula secara lokal. Kurangnya pemahaman ini mengakibatkan pula sulitnya mengukur keberhasilan program pengentasan kemiskinan yang telah dilakukan. Metode pengukuran saat ini juga kurang valid karena berdasarkan pendekatan proyek yang mengukur output keberhasilan program hanya dari prosentase anggaran yang sudah terserap tanpa bisa memetakan berapa jumlah orang miskin yang berhasil di entaskan melalui program tersebut, berapa orang yang berubah dari miskin menjadi prasejahtera, berapa orang yang sudah dibantu namun tetap dibawah garis kemiskinan atau berapa orang yang sejahtera namun pura-pura miskin. Akhirnya penulis hanya bisa berharap agar penanganan kemiskinan di Indonesia dilakukan secara tepat, tuntas dan terintegrasi bisa terwujud diawali dengan kesatuan data penduduk miskin dan definisi yang sama tentang kemiskinan sehingga bisa diperoleh gambaran yang realistis dan terukur sehingga akar kemiskinan bisa ditemukan dan diatasi dengan program yang jitu. Semoga!
www.akuntablestiepb.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar