Kurikulum
2013 merupakan kurikulum baru yang diterapkan pada pendidikan di indonesia,
kurikulum ini menggantikan kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) yang telah berjalan selama kurang lebih 6 tahun di Indonesia.
Pada tahun 2014, kurikulum 2013 sudah diterapkan di kelas I, II, IV, dan V,
sedangkan di SMP kelas VII dan VIII, dan pada tingkat SMA kelas X dan XI. Pada
kurikulum ini ada beberapa perbedaan dengan kurikulum sebelumnya, yaitu ada
beberapa materi yang dirampingkan dan ada yang ditambahkan. Selain itu
penilaian pada kurikulum ini juga meliputi 3 aspek, yaitu aspek pengetahuan,
aspek keterampilan, serta aspek sikap dan perilaku. Ketiga penilaian ini
membuat orang memiliki pandangan bahwa kurikulum 2013 sangat rumit dan terkesan
memberatkan bagi peserta didik.
Menurut
teori manajemen, sistem pembelajaran yang baik itu harus mencakup 4 hal.
Pertama, hasil akhir pendidikan yang harus dicapai peserta didik (keluaran),
dan dirumuskan sebagai kompetensi lulusan. Kedua, kandungan materi yang harus
diajarkan kepada, dan dipelajari oleh peserta didik (masukan/ standar isi),
dalam usaha membentuk kompetensi lulusan yang diinginkan. Ketiga, pelaksanaan
pembelajaran (proses, termasuk metodologi pembelajaran sebagai bagian dari
standar proses) supaya ketiga kompetensi yang diinginkan terbentuk pada diri
peserta didik. Keempat, penilaian kesesuaian proses dan ketercapaian tujuan
pembelajaran sedini mungkin untuk memastikan bahwa masukan, proses, dan
pengeluaran tersebut sesuai dengan rencana. Berdasar teori tersebut, jelas
tertera bahwa dunia pendidikan tidak semudah yang kita bayangkan, banyak aspek
yang menjadi pertimbangan guna menghasilkan peserta didik yang berkualitas dan
tidak sekedar lulus dengan nilai seadanya. Hal ini dimungkinkan untuk memajukan
kualitas pendidikan di Indoesia.
Kurikulum
2013 yang diterapkan di Indonesia memang menuai banyak pro dan kontra, bagi
mereka setuju dan tidak setuju pun dilengkapi dengan alasan masing-masing yang menyertai.
Bagi mereka yang mendukung penerapan
kurikulum 2013 ini beranggapan bahwa dengan penerapan kurikulum 2013, peserta
didik akan lebih mampu menggali potensi mereka dan lebih banyak berkreatifitas
dengan keterampilan yang mereka miliki. Selain itu, banyaknya aspek yang
dinilai pada kurikulum ini diharapkan peserta didik akan pintar bukan hanya
dari akademiknya saja, melainkan dari aspek-aspek lain, seperti perilaku,
kesopanan, dan keahlian lainnya. Hal ini yang menjadikan mereka setuju akan
penerapan kurikulum 2013. Namun, bagi mereka yang kontra dengan kurikulum 2013
beranggapan bahwa kurikulum ini terlalu memaksa peserta didik untuk berfikir
lebih keras. Banyak yang mengeluhkan tentang kurikulum ini, bukan hanya dari
peserta didik, melainkan dari berbagai pihak, seperti pendidiknya atau orang
tuanya. Bagi pendidik, mereka beranggapan bahwa penilaian pada kurikulum 2013 ini
terlalu banyak dan merepotkan, selain itu bagi orang tua yang mengeluhkan
karena anak mereka merasa terbebani dengan materi yang banyak karena adanya
beberapa penggabungan materi sehingga terlihat banyak dan mereka merasa kelelahan
untuk mempelajari materi tersebut.
Berdasar
hal yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan kurikulum
2013 memiliki banyak penilaian baik pro maupun kontra antar banyak kalangan,
baik dari peserta didik, pendidik, serta orang tua peserta didik. Kembali lagi
pada topik utama tentang keefektifan kurikulum 2013, sebenarnya efektif atau
tidaknya suatu kurikulum tergantung dari cara pandang kita menilainya. Kalau
dilihat dari sisi positif memang bagus karena mengajarkan peserta didik untuk
pintar dalam segala aspek, namun bagi mereka yang memandang negatif mungkin
karena mereka belum siap dengan ketentuan yang diterapkan pada kurikulum 2013.
Jadi, pada dasarnya kurikulum itu dapat efektif jika terjadi kesanggupan dan
sikap saling mendukung antar pihak terkait. Dari orangtua yang mendampingi
anaknya untuk belajar dan memberi segala fasilitas yang diperlukan, peserta
didik yang ikhlas menjalankan dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan
pendidikan yang diterapkan, serta pihak pendidik yang selalu memberi materi
yang sesuai dan memberikan motivasi bagi peserta didiknya agar menjadi peserta
didik yang sukses tidak hanya dalam bidang akademik, tapi dari semua aspek yang
dibutuhkan. Jadi keefektifan suatu kurikulum dapat terlaksana jika semua pihak
terkait saling mendukung dan menyatukan pandangan bahwa kurikulum 2013 ini
membawa dampak yang baik bagi dunia pendidikan di Indonesia kedepannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar